
KLATEN, 9 Juli 2026 – Di tengah masa transisi pasca-merger sekolah yang kini mengintegrasikan layanan pendidikan dari latar belakang SLB-B (tunarungu) dan SLB-A (tunanetra), SLB A YAAT Klaten mengambil langkah strategis untuk menyelaraskan kapasitas tenaga pendidik. Pada Kamis (9/7), sekolah menyelenggarakan In House Training (IHT) dengan fokus utama, “Penguatan Kompetensi Guru dalam Pelayanan dan Pendampingan Anak dengan Autisme”.
Pelatihan ini hadir sebagai respons nyata atas kebutuhan internal sekolah di masa transisi. Meskipun selama ini sekolah telah melayani siswa dengan autisme, proses penggabungan identitas sekolah menjadi momentum penting untuk melakukan penyelarasan kapasitas tenaga pendidik. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang bagi para guru untuk memperkaya kompetensi mereka, terutama bagi pendidik yang selama ini berdedikasi pada spesialisasi tunarungu atau tunanetra, agar semakin siap dan adaptif dalam merangkul spektrum kebutuhan siswa yang lebih luas, termasuk autisme.
“Tujuan diadakannya IHT ini adalah untuk melakukan pemerataan kompetensi. Kami ingin guru-guru kami, dari latar belakang keahlian apa pun, memiliki standar yang sama dalam menangani anak autis,” ungkap perwakilan sekolah.
Menyadari semakin banyaknya siswa dengan autisme, pihak sekolah menghadirkan Dr. Joko Yuwono, M.Pd., Kepala Program Studi Magister Pendidikan Luar Biasa UNS, sebagai narasumber untuk memberikan pelatihan komprehensif. Sebagai akademisi dan praktisi yang memiliki kepakaran mendalam dalam pelayanan anak dengan autisme serta pengembangan pendidikan inklusif, beliau membedah penerapan metode Applied Behavior Analysis (ABBA) sebagai materi utama. Dalam sesi tersebut, Dr. Joko Yuwono menjelaskan secara mendalam bagaimana prinsip-prinsip ABBA dapat menjadi alat bantu operasional bagi guru di kelas, mulai dari langkah praktis modifikasi perilaku hingga teknik pemberian instruksi yang terstruktur agar siswa dengan autisme dapat berpartisipasi optimal dalam proses belajar.
Kegiatan ini diharapkan menjadi titik balik bagi seluruh staf pengajar. Dengan bekal keilmuan yang diberikan, sekolah optimis dapat menghapus sekat-sekat spesialisasi lama dan membentuk tim yang lebih adaptif dalam menangani beragam kebutuhan siswa.
Langkah ini adalah wujud komitmen jangka panjang SLB A YAAT Klaten dalam memastikan setiap siswa, terlepas dari spektrum autisme yang mereka miliki, mendapatkan hak pendidikan yang layak dan lingkungan sekolah yang benar-benar inklusif.
